Buku ini merangkum perjalanan hidup Amalia setelah ditinggalkan bapaknya empat tahun lalu, tepat di hari kelulusannya. Ia dihadapkan dengan banyak peristiwa yang membuatnya kesulitan merasakan tenang. Ujian ekonomi, keluarga, kegagalan, dan berbagai konflik batin yang enggan beranjak dari dunianya yang tinggal separuh.
Hidupnya dipenuhi berbagai tanya saat laki-laki tua yang selalu jadi perisai dan lentera dalam hidupnya, mengembuskan napas terakhir. Baginya, dunia lebih mirip gelanggang tinju tanpa aturan: berantakan dan berbahaya. Ia tidak pernah dipersiapkan untuk hidup tanpa bapak, apalagi hidup demi orang lain.
Selama empat tahun, Amalia melakukan banyak hal untuk bertahan karena menyerah adalah kemewahan yang tidak bisa lagi ia dapatkan tanpa bantuan bapak. Ia kemudian menulis peta perjalanan untuk orang-orang yang juga terjebak di antara duka dan penerimaan. Seperti namanya, Amalia adalah kekuatan dan harapan. Semesta mengambil bapak untuk menjadikannya kuat. Lalu lewat tulisan, ia ingin menjadi harapan bagi orang lain yang bingung bagaimana caranya hidup tanpa bapak.
Buku ini mengajarkan bahwa cara melanjutkan hidup setelah kehilangan justru dengan merayakannya, sebab duka adalah tanda besarnya cinta yang pernah diterima. Ia datang, hanya pada mereka yang punya banyak cerita untuk dikenang. Saat hari-hari gelap yang disangka sudah pergi itu kembali lagi, kenangan itu yang akan menuntun kita pada penerimaan dan menemukan alasan untuk memulai kembali.









Reviews
There are no reviews yet.