Catherine Morland bukanlah gadis dengan pesona luar biasa, dia hanyalah remaja perdesaan polos yang gemar membaca novel-novel gotik. Saat mengunjungi Kota Bath bersama keluarga tetangganya, dunia sosial yang ramai dan pesta gemerlap mempertemukannya dengan Isabella Thorpe yang penuh drama dan Henry Tilney, pria cerdas lagi menawan yang tertarik kepadanya.
Ketika diundang untuk menginap di rumah keluarga Tilney, Northanger Abbey yang tersohor, Catherine datang dengan bayang-bayang fantasi gotik. Dia mulai menyelidiki kematian ibu Henry dan mencurigai kepala keluarga Tilney yang mungkin tidak sebaik tampak luarnya. Namun, rahasia terbesar yang dia temukan bukan terkurung di ruang gelap, melainkan tersembunyi dalam perilaku manusia: cinta, ambisi, dan permainan status sosial.
Lewat Catherine Morland, muncul penyadaran bahwa dunia nyata jauh lebih rumit daripada fiksi, dan bahwa memahami orang lain—terutama diri sendiri—membutuhkan kedewasaan, bukan sekadar imajinasi. Dengan satire khas Jane Austen, Northanger Abbey mengkritik tren sastra pada zamannya sambil menyuguhkan potret tajam tentang masyarakat, kelas, dan peran perempuan dalam pernikahan.
Keunggulan
– Northanger Abbey mengambil genre gotik satir dan bisa dibilang merupakan parodi fiksi gotik yang populer pada 1790-an.
– Menurut catatan saudari Jane Austen, Cassandra, yang ditulis setelah kematian Jane pada 1817, novel ini diselesaikan pda 1798 atau 1799. Namun, kemiripan gaya tulisan buku ini dengan buku Jane lainnya, Juvenilia, yang ditulis pada awal 1790-an, serta berbagai candaan yang hanya dipahami dan dihargai keluarga Austen, menunjukkan bahwa buku ini mulai ditulis pada periode itu, mungkin sekitar tahun 1794. Bagaimanapun, referensi beberapa novel gotik yang ditemukan dalam novel ini baru rilis setelah tahun 1794, yang mengindikasikan bahwa Jane belum menyelesaikan buku ini pada tahun 1798 atau 1799 seperti yang diingat Cassandra. Filolog Cecil Emden berargumentasi bahwa perbedaan sosok Catherine di Bath dan di Northanger Abbey timbul karena Jane menyelesaikan novel ini pada periode kehidupan yang berbeda dari ketika dia memulainya.
– Northanger Abbey baru diterbitkan pada 1817 bersama Persuasion, setelah dia meninggal. Northanger Abbey disebut sebagai naskah pertama yang diselesaikan Jane Austen hingga akhir meskipun kemudian dia melakukan beberapa revisi.
– Catherine, tokoh utama wanita, digambarkan sebagai gadis 17 tahun yang berasal dari desa dan dibawa ke kota untuk menemani keluarga Allen, teman lama keluarga. Di sanalah untuk pertama kalinya Catherine, yang sangat suka membaca novel terutama yang bergenre horor, merasa mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan hal-hal yang selama ini dia kira hanya ada dalam karya fiksi. Catherine juga digambarkan memiliki daya imajinasi yang sangat aktif dan dia cenderung terlalu jauh memahami dan mendalami sesuatu.
– Jane Austen menggunakan gaya yang menarik dalam narasi novel ini. Beberapa kali dia muncul sebagai “aku” dari sudut pandangnya sebagai penulis, dan menyertakan berbagai pendapat pribadi. Kesempatan untuk menjelajahi benak penulis klasik terkenal seperti Jane Austen adalah hal yang tidak boleh dilewatkan!
– Jane Austen dulu menjual novelnya, yang berjudul awal Susan, kepada Crosby & Co. di London pada 1803 dan hanya dibayar £10. Penerbit ini tidak mencetak buku tersebut, tetapi menahan naskah aslinya. Jane dilaporkan mengancam untuk menarik kembali naskahnya, tetapi Crosby & Co. merespons bahwa dia harus menghadapi tuntutan hukum jika melakukan itu. Pada musim semi 1816, penerbit itu menjual kembali naskah Jane kepada saudaranya, Henry Austen, dengan harga yang sama ketika mereka membelinya pertama kali. Ada bukti bahwa Jane Austen keudian merevisi naskahnya pada 1816-1817 dengan maksud untuk dicetak dan diterbitkan. Dia menulis ulang beberapa bagian dan mengganti nama karakter utamanya menjadi Catherine, yang kemudian dia jadikan judul.
Setelah kematiannya, saudari Jane, Henry, kemudian memberikan judul akhir pada naskah ini dan mengurus penerbitan Northanger Abbey pada akhir Desember 1817 (meski di dalam bukunya ditulis 1818), sebagai dua volume awal dari total empat volume, dengan kata pengantar yang untuk pertama kalinya menyebutkan Jane Austen sebagai penulis dari semua novelnya. Tak satu pun dari Northanger Abbey ataupun Persuasion memakai judul awal yang Jane Austen gunakan. Dann meski dirilis bersamaan, kedua novel ini tidak berkaitan; baru pada edisi berikutnya, kedua novel ini dirilis terpisah.










Reviews
There are no reviews yet.