NT$570

Telepon itu kutemukan selagi membereskan gudang siang tadi. Warnanya merah tua, kusam oleh waktu, dan karat di gagangnya.

Kring!

Hingga tiba-tiba, suara dering terdengar nyaring, dari telepon yang seharusnya mati. Suara laki-laki terdengar.

Ankaa, 31 Desember 2022

 

Namaku Bumi Biru Laut, dan aku muak menenteng warisan identitas pengkhianat besar-besaran ini. Namun, aku bertemu dengannya. Bunga, perempuan yang mengingatkanku bahwa perlawanan tak boleh mati dari orang-orang sepertiku. Sebab, perlawanan adalah satu-satunya cara mempertahankan yang tersisa dariku: harga diri, tekad, dan nurani.

Suatu malam, kutunggu Bunga mengangkat teleponku. Namun, suara laki-laki terdengar.

Biru, 26 Juli 1989

 

Ankaa dan Biru. Keduanya terhubung oleh telepon merah karatan yang telah lama mati. Namun, mengapa keduanya harus terhubung, melintasi ruang masa kini ke masa lalu? Adakah dalang yang menghubungkan mereka? Dan, peristiwa besar apa di antara keduanya yang ingin diungkap oleh Sang Takdir?