Di tengah dinginnya Berlin tahun 1998, seorang perempuan Indonesia mencoba menata hidup baru sambil menambal luka lama yang dibawanya dari tanah air. *Hi Berlin 1998* membawa pembaca menyusuri lorong-lorong kota asing, tempat kenangan, kerinduan, dan pencarian jati diri saling bertabrakan.
Setiap pertemuan terasa asing, tapi juga membentuk rumah baru di dalam hati. Bahasa yang lirih dan jujur menjahit narasi tentang menjadi asing—di negeri orang, maupun di dalam diri sendiri. Sebuah kisah perantauan yang sunyi, puitis, dan sangat manusiawi.







Reviews
There are no reviews yet.