NT$470

Sungguh sedih melihat umat Islam terpecah menjadi sekian golongan. Tak jarang pertikaian menjadi awal permusuhan. Terputuslah silaturahim. Menyebarlah prasangka buruk, dusta, bahkan fitnah yang sangat keji. Fanatisme golongan menjadi dalil segala keyakinan. Merebaklah kecenderungan untuk menganggap pendapat sendiri yang paling benar dan menafikan pendapat yang lain.

 

Inilah wajah umat sekian abad sepeninggal Rasulullah Saw.: terkotak-kotak dalam bingkai kelompok yang sangat sempit. Mereka melupakan misi kenabian. Sejak awal lelaki agung Al-Mustafa diangkat menjadi utusan, berkali-kali beliau menegaskan, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

 

Misi Nabi Saw. adalah menegakkan akhlak yang mulia. Tetapi, justru karena perbedaan pendapat—yang umumnya berasal dari tata cara syariat (fiqih)—umat sepeninggal Nabi Saw. justru tercerai-berai. Karena alasan fiqih, tak jarang akhlak ditinggalkan. Karena perbedaan tata cara ibadah, betapa sering terjadi perselisihan.

 

Jalaluddin Rakhmat ingin kembali mengingatkan kita akan misi kenabian. Dalam bukunya ini, ia menelaah akar perselisihan, mengkaji berbagai persoalan, dan mengedepankan sebuah pemecahan bahwa di tengah perbedaan pendapat seperti apa pun, akhlak yang mulia tetap harus kita tegakkan.

 

 

“Fiqih bersifat partikular dan kontekstual, sementara akhlak bermakna nilai-nilai kemanusiaan universal yang mestinya melandasi seluruh produk pikiran manusia. Buku ini merepresentasikan pikiran-pikiran mendalam, luas, jernih, dan sekaligus mendamaikan hati. Sangat penting untuk dibaca oleh publik luas.” —K.H. Husein Muhammad, penulis Menuju Fiqh Baru

 

 

“Tradisi saling kritik dengan elegan dan bernas kini mulai punah. Buku ini menjadi pengingat bahwa seberbeda apa pun, akhlak dan penghormatan terhadap sesama mesti diutamakan.” —Prof. Nadirsyah Hosen, Ph.D., Monash University, Australia

 

 

“Buku ini mengundang umat Islam untuk bersikap terbuka dan berlapang dada dalam menerima perbedaan berkat aneka ragam pendapat yang ada pada fiqih. Akhlak yang diejawantahkan dalam sikap tepa salira itu seyogianya dikedepankan daripada sikap kaku dan ketat memegang satu pendapat fiqih saja. Nah, Kang Jalal sangat piawai menyajikan tema ‘berat’ dan ‘sensitif’ tentang fiqih ini dari masa awal Islam sampai masa kini yang ditulis dengan gaya ‘bercerita yang renyah’ sehingga enak dibaca. Keunggulan Kang Jalal yang menonjol dalam buku ini ialah bacaannya yang kaya akan khazanah Islam klasik dan kemampuannya membaca masa lalu dengan teropong ilmu-ilmu sosial dan humaniora, untuk kemudian menyajikan satu penafsiran dan bacaan baru yang menyejukkan bagi umat. Buku ini wajib dibaca oleh siapa saja dari umat Islam, apa pun mazhab fiqihnya.” —Prof. Ayang Utriza Yakin, Catholic University of Leuven, Belgia

 

 

“Jalal memaparkan telaah intertekstualitas atas sejumlah kitab klasik, … sambil sesekali menaburkan pengalaman pribadinya sendiri yang, eloknya, lebih sering membuat pembaca tersenyum ketimbang berkerut dahi, tanpa meninggalkan bingkai religiositasnya.” —Tempo