The Geography of Bliss, Eric Weiner, melakukan perjalanan intelektual yang berliku, mengikuti jejak para pemikir besar dalam sejarah dan menunjukkan kepada kita bagaimana para filsuf—dari Epicurus hingga Gandhi, Thoreau hingga Beauvoir—menawarkan kearifan serta kebijaksanaan praktis dan spiritual untuk masa-masa ambyar seperti sekarang.
Kita kembali berfilsafat dengan alasan yang sama ketika kita berkelana: melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, menggali keindahan yang terkubur, dan menemukan cara baru menjelaskan keberadaan kita. Kita ingin mempelajari cara merenung. Menghadapi penyesalan. Meneguhkan harapan.
Di dalam The Socrates Express ini, Weiner mengajak kita berkelana bersamanya, pada perburuan kebijaksanaan yang mengubah hidup dan menemukan jawaban atas perenungan-perenungan paling penting.
“Buku ini bukanlah “bacaan”, melainkan “perjalanan”. … kamu tidak hanya melihat-lihat pemandangan dan ngobrol
dengan orang-orang menarik,tetapi membawa cendera mata termulia: perubahan menjadi manusia yang lebih baik.”
—Henry Manampiring, penulis Filosofi Teras
“Lewat buku ini Eric Weiner menghadirkan filsafat sebagai seni menjalani hidup. Buku ini memberi kita kesempatan langka untuk rehat dari riuh-rendah keseharian dan menatap jantung dari segala prahara dengan santuy.”
—Martin Suryajaya, penulis buku-buku filsafat, penulis buku Sejarah Estetika: Era Klasik sampai Kontemporer, pemenang sayembara Kritik Sastra DKJ, sayembara Novel DKJ
“Buku ini membuat filsafat intim, hangat, dan menyegarkan; bagai lensa jernih untuk mata batin yang sering keruh dan letih. Ia bahkan dapat membuat hari-hari kita lebih mengasyikkan.”—Dr. Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat, mengajar di Unpar dan ITB
“Karya filsafat yang lahir dari ruang-ruang akademik biasanya seperti matahari: menerangi tetapi jauh sekali dari bumi. Ia memberikan pencerahan, tetapi tampak tak pernah peduli dengan apa yang dialami manusia secara langsung dalam kehidupannya sehari-hari. Buku ini, yang ditulis dalam bentuk catatan perjalanan, adalah upaya menjadikan filsafat bukan sebagai matahari, melainkan sebagai suluh. Suluh itu tidak hanya menerangi, tetapi juga dialami, dibuat oleh manusia sendiri di bumi, dan turut menjadi bagian dari perjalanan manusia melintasi sabana, hutan, sungai, dan lautan. Tidak seperti matahari, suluh itu tidak tunggal dan tidak membuat penerangan universal. Penerangan suluh selalu beragam, sesuai dengan kebutuhan sang pejalan. Persis seperti suluh itulah filsafat yang akan Anda temui dalam buku ini. Selamat berjalan dengan suluh filsafat!” —Taufiqurrahman, pembaca dan penulis filsafat








Reviews
There are no reviews yet.