NT$370

MAUVE

Diawali dengan jatuh cinta pada pandangan pertama. Di atas bus pada suatu sore sepulang latihan tari. Aneh rasanya, gue yang suka nge-cover dance K-Pop di media sosial dan cuma buka buku pelajaran kalau besok ada ujian, naksir cowok yang selalu peringkat satu di kelas dan hobinya adalah belajar. Tapi, cinta emang kayak gitu, ‘kan? Memunculkan hal-hal baru yang lo enggak tahu ada di diri lo.

 

MILO

Jatuh cinta sama sahabat sendiri dan ketahuan? Dan, demi menyelamatkan muka, mau-mau aja diajak pura-pura pacaran sama teman sekelas yang terang-terangan naksir elo? Yap, tepat itulah yang gue lakukan. Kesalahan besar karena hidup gue yang tenang jadi berisik seketika.

Cewek satu itu begonya enggak nanggung-nanggung dan mulutnya enggak pernah berhenti ngomong. Yang ada di otaknya cuma nari dan malas- malasan.

Kemudian, pada satu titik, mendadak aja kehadirannya bikin gue terbiasa.

 

Keunggulan

– Taken Slowly merupakan novel kesembilan penulis.

– Taken Slowly adalah novel kedua dari seri dia.lo.gue yang terdiri dari 3 buku: Broken Badly, Taken Slowly, Fallen Gladly. Seri ini melibatkan tiga penulis yang sudah punya nama di dinua pernovelan Indonesia: Dadan Erlangga, Ainun Nufus, dan Despersa. Ketiganya juga dikenal aktif menulis di Platfrom E-book.

– Novel ini berfokus pada permasalahan anak remaja, terutama tentang menemukan jati diri, memilih antara mimpi dan nilai akademik, serta permasalahan keluarga.

– Dua tokoh utama digambarkan sangat bertolak belakang dan merujuk kepada dua dari banyak tipe remaja zaman sekarang. Milo adalah seorang juara kelas, pemenang olimpiade, dan memiliki kepribadian tenang dan tertutup. Sementara Mauve adalah teman sekelas Milo, seorang YouTuber yang terkenal karena meng-cover dance K-Pop serta memiliki banyak pengikut, tetapi mendapat peringkat tiga terbawah di sekolah. Dua kepribadian yang berbeda ini nantinya akan mengalami banyak perubahan, yang tentu saja ke arah lebih baik, menunjukkan bahwa hobi, impian, dan pendidikan akan seiring sejalan asalkan bisa menempatkan prioritas dengan seimbang.

– Menonjolkan pesan bahwa perubahan karena orang lain bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Asalkan ada niat, apa pun penyebabnya, perubahan positif bisa terjadi. Dan, pada akhirnya, semua itu kembali lagi ke diri sendiri.