Halte Alam Baka

NT$530

Julian membuka mulutnya dan menguap lebar-lebar. Anak lidahnya sampai terlihat.

 

Lima, dia menghitung dalam hati. Ini sudah kuapku yang kelima dalam tiga puluh menit terakhir. Firasatnya mengatakan dia akan menguap lebih banyak lagi.

 

Seorang cowok tambun berkacamata melongokkan kepala pada Julian melewati pembatas kubikel. Namanya Dewa. “Udah ketemu, belum, Ju? Nggak perlu yang unik unik banget. Cukup ambil satu yang bikin lumayan penasaran aja.” Julian bergumam mengiyakan, asal mengeklik sebuah e-mail di kotak masuknya dan membaca isinya. “Penampakan gadis Belanda di hotel tua.” “Terlalu biasa,” komentar Dewa. “Pola-pola misterius di ladang perkebunan warga.” “Ulah para pemuda iseng. Sudah pernah diselidiki.” “Hewan aneh berkepala dua yang meneror suatu desa.” “Nah, kalau yang itu gimana?” “Pasti cuma salah lihat. Sebagian besar saksi mata berumur di atas tujuh puluh tahun. Nggak ada hewan aneh berkepala dua. Mereka cuma perlu kacamata, Wa.” “Tapi di situlah lo bermain, Ju!” Dewa merangkul bahu Julian dengan lengannya yang gempal dan berbulu. “Lo tambahin bumbu-bumbu drama supaya jadi artikel yang menarik!”

Halte Alam Baka
Halte Alam Baka

NT$530