Ale, pria berusia 37 tahun dengan tubuh besar dan kulit gelap, tumbuh dalam lingkungan
keluarga yang tidak pernah benar-benar mendukungnya. Sejak kecil ia terbiasa menghadapi
perundungan, kesepian, dan penolakan. Hingga dewasa, ia masih membawa luka-luka itu,
bersama depresi berat yang akhirnya membuatnya berada di titik paling gelap dalam hidupnya.
Meski sering dianggap tidak peduli, Ale sebenarnya berulang kali mencoba memperbaiki diri
agar bisa diterima dalam lingkungannya. Namun setiap usahanya selalu berujung gagal.
Bahkan keluarganya—yang paling ia harapkan menjadi tempat pulang—tidak mampu
memberikan dukungan saat ia membutuhkannya.
Pada suatu hari, setelah merasa seluruh tenaganya habis, Ale mencapai sebuah keputusan
kelam tentang hidupnya. Ia tidak ingin menyakiti siapa pun; ia hanya merasa lelah, kosong,
dan tidak melihat jalan keluar dari penderitaan yang menghimpitnya.
Menjelang titik itu, Ale melakukan hal-hal kecil yang selama ini tidak pernah ia izinkan
untuk dirinya sendiri. Ia membersihkan apartemen, makan makanan yang selama ini ia anggap
terlalu mahal, pergi karaoke dan bernyanyi sepuasnya, bahkan membeli konfeti kecil sebagai
bentuk perayaan dirinya—sebuah simbol dari keinginan sederhana untuk merasa berarti
setidaknya sekali saja.
Di sebuah momen sunyi, saat ia mengenakan baju hitam yang rapi dan bersiap untuk
mengambil keputusan terakhirnya, Ale tiba-tiba berhenti. Ia membaca kembali tulisan kecil
pada botol obat yang ia pegang: “dikonsumsi sesudah makan.” Perutnya berbunyi pelan.
Seketika, muncul dorongan yang sangat manusiawi—untuk makan sesuatu yang ia suka.
Sebuah pilihan kecil, namun untuk pertama kalinya terasa benar-benar miliknya.
Ia menunda semuanya. Ia bangkit, menyalakan lampu dapur, dan memutuskan bahwa sebelum
melakukan apa pun, ia ingin menikmati satu hal sederhana: seporsi mie ayam hangat,
hidangan yang selalu membuatnya merasa sedikit lebih hidup.
Dan pada malam itulah, Ale kembali merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan: bahwa
bahkan dalam kegelapan yang pekat, selalu ada momen kecil yang bisa menjadi alasan
untuk bertahan sedikit lebih lama.








Reviews
There are no reviews yet.