Maulid Simtudduror

NT$170

Kitab Simtud Durar yang berisi kisah hidup, akhlak, dan puji-pujian kepada Rasulullah SAW sangat populer di kalangan umat Islam Indonesia. Ketika bulan Maulid tiba, bacaan Simtud Durar menggema di berbagai daerah. Namun, tidak banyak yang mengenal sosok penggubahnya, seorang sufi dari Hadramaut yang begitu mencintai Rasulullah, yaitu Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al Habsyi. Bertepatan dengan haul ke-106, Republika mewawancarai Habib Hasan bin Anis Al Habsyi, generasi keempat keturunan Habib Ali yang tinggal di Solo.

Habib Ali lahir pada Jumat, 24 Syawal 1259 H (1839 M) di desa Qasam, Hadramaut. Ayahnya, Muhammad bin Husain Al Habsyi, adalah ulama besar yang menghabiskan hidupnya berdakwah ke berbagai daerah. Ibunya, Alawiyyah binti Husein, juga dikenal sebagai pengajar agama yang mahir. Dari lingkungan keluarga inilah Habib Ali tumbuh menjadi ulama besar yang berdakwah ke berbagai pelosok Yaman, setelah belajar dari para ulama terkemuka di sana.

Menurut Habib Hasan, kecintaan Habib Ali kepada Rasulullah sangat luar biasa. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kedudukannya diangkat karena besarnya kecintaan itu. Rasa cinta tersebut kemudian dituangkan melalui karya monumental Simtud Durar.

Dalam buku biografi Habib Ali Muallif Simtud Durar karya Husein Anis Al Habsyi diceritakan bahwa sejak kecil Habib Ali hidup sederhana dan sering berpindah tempat demi menimba ilmu. Ia digambarkan sebagai anak yang patuh dan sangat haus ilmu agama. Ia tidak pernah menolak ketika ayahnya mengajaknya menuntut ilmu ke Mekkah.

Pada usia 11 tahun, Habib Ali pindah ke Seiwun untuk belajar kepada Sayyid Umar bin Hasan Al Haddad. Ketika berusia 17 tahun, ia membawa ayahnya hijrah ke Mekkah untuk memperdalam ilmu pada ulama-ulama besar. Dalam manuskrip Fuyudhat al-Bahr al-Mali karya Thaha bin Hasan disebutkan bahwa Ali kecil setiap hari menyempatkan diri melakukan umrah dari Tanim tanpa banyak diketahui orang.

Habib Ali dikenal sangat ahli dalam ilmu Nahwu berkat bimbingan Syeikh Muhammad Khathib, seorang ulama gramatika Arab. Bahkan dalam sebuah majelis, gurunya meminta agar Habib Ali—yang kala itu adalah muridnya—mengajarinya kembali. Setelah dewasa, Habib Ali menjadi ulama yang sangat disegani. Masyarakat berbondong-bondong menghadiri majelis ilmunya, dan murid-muridnya kemudian menjadi ulama besar yang menyebarkan Islam ke berbagai negara.

Maulid Simtudduror
Maulid Simtudduror

NT$170