Diskusi kenegaraan kita kerap mampat di permukaan. Politik dibahas terpisah dari filsafat. Moral dibahas tanpa dasar. Politik berjalan tanpa arah. Agama pun kerap hanya jadi stempel kekuasaan. Akibatnya, wacana keadilan dan tujuan hidup bersama jadi kehilangan pegangan.
Al-Madinah al-Fadhilah mengisi kekosongan itu. Bagi al-Farabi, sebuah negara menjadi ideal jika masyarakatnya bekerja sama menuju kebahagiaan hakiki. Pemimpinnya pun harus sosok istimewa: Seorang bijak yang menyatukan nalar filsuf dan visi nabi.
INTISARI
1. Tuhan adalah Sebab Pertama yang Esa dan sumber pancaran seluruh eksistensi alam semesta.
2. Alam semesta tercipta secara hierarkis melalui emanasi Tuhan, berurut dari akal murni hingga materi bumi.
3. Puncak kesempurnaan jiwa manusia adalah kenabian yang menghubungkan daya imajinasi dengan Akal Aktif.
4. Negara ideal ibarat tubuh sehat yang dipimpin oleh nabi-filsuf demi mencapai kebahagiaan bersama.
5. Kebahagiaan abadi hanya milik warga yang mengenal kebenaran, sedangkan warga negara bodoh akan musnah.
Buku ini merupakan bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin:
1. menyelami politik sebagai ejawantah dari filsafat dan etika;
2. menghayati kepemimpinan sebagai laku intelektual dan spiritual;
3. menemukan kembali makna kebahagiaan sejati di tengah karut-marut sosial; serta
4. menajamkan nalar kritis untuk membedakan masyarakat yang “sehat” dan yang “sakit”.










Reviews
There are no reviews yet.